Jakarta – ASEAN Food & Beverage Alliance (AFBA) bersama Oxford Economics meluncurkan laporan bertajuk Economic Insights: Unlocking Indonesia’s Agri-Food Powerhouse di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Didukung oleh Food Industry Asia, laporan tersebut menegaskan peran strategis sektor agribisnis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, serta penguatan perdagangan.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, memaparkan arah transformasi agribisnis dalam kerangka visi Indonesia Emas 2045.
Ia menjelaskan pemerintah tengah menjalankan transformasi struktural dengan fokus pada peningkatan produktivitas pertanian serta integrasi dengan pengembangan agroindustri.
“Transformasi ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan ketahanan pangan dan gizi bagi populasi yang terus meningkat,” ujarnya.
Langkah tersebut selaras dengan agenda pembangunan dalam RPJMN 2025–2029 yang menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah agroindustri, penguatan ketahanan pangan, serta pengurangan kemiskinan di pedesaan.
Peluncuran laporan ini juga mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, dan pemangku kepentingan regional untuk membahas strategi optimalisasi sektor agribisnis sebagai motor utama daya saing Indonesia di kawasan.
Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi, Satvinder Singh, menekankan pentingnya kolaborasi regional dalam memperkuat sistem pangan dan rantai pasok di Asia Tenggara.
Ia menyebut ASEAN sebagai pasar dinamis dengan lebih dari 700 juta penduduk yang harus dijaga dan dikembangkan melalui kerangka kerja seperti ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) dan Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
Dari sisi riset, Direktur Konsultasi Ekonomi Oxford Economics, James Lambert, menilai sektor agribisnis Indonesia memiliki skala besar dan menjadi pilar utama perekonomian nasional.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, penguatan fondasi domestik, kepastian regulasi, serta modernisasi infrastruktur logistik menjadi kunci menjaga daya saing jangka panjang.
Sementara itu, perwakilan Sekretariat ASEAN, Pham Quang Minh, menegaskan komitmen kawasan dalam memperkuat ketahanan dan keberlanjutan sektor pangan melalui berbagai inisiatif strategis.
ASEAN terus mendorong implementasi kerangka kerja seperti Strategic Plan of Action for Food, Agriculture and Forestry (SPA-FAF) serta ASEAN Integrated Food Security (AIFS) guna menciptakan sektor agribisnis yang inklusif dan tangguh.
Laporan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama agribisnis di kawasan, sekaligus membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di masa depan.
