Denpasar, lajunetwork.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong peningkatan kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia industri Indonesia dengan China melalui Universitas Tsinghua.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mempercepat pengembangan inovasi sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Brian menyampaikan hal tersebut saat menghadiri China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, Denpasar, Minggu.
Menurut Brian, hubungan yang lebih erat antara kalangan akademik dan industri diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat lebih cepat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata.
“Kolaborasi antara industri dan universitas dapat membawa penelitian lebih dekat dengan kebutuhan praktis, mempercepat inovasi dan mempersiapkan generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan untuk berkontribusi di dunia yang berubah dengan cepat,” ujar Brian dalam pidatonya.
Ia mengatakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memberikan perhatian terhadap kemitraan yang mampu mengubah pengetahuan serta hasil penelitian menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kerja sama semacam itu, kata dia, juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan di tingkat nasional maupun regional.
Brian menilai Universitas Tsinghua memiliki reputasi internasional dalam bidang penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi. Atas dasar itu, Indonesia membuka ruang yang lebih luas bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian nasional untuk meningkatkan keterlibatan dengan universitas tersebut.
Kerja sama dapat dikembangkan melalui berbagai skema, antara lain penelitian bersama, pertukaran akademik, pengembangan talenta, hingga program pendidikan dan riset yang disusun berdasarkan kebutuhan.
“Kami berharap forum ini membuka lebih banyak peluang untuk mengembangkan kemitraan semacam itu di antara negara-negara kita,” katanya.
Menurut Brian, kolaborasi yang dibangun tidak hanya berorientasi pada hubungan antarlembaga pendidikan, tetapi juga perlu menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan dunia industri dan masyarakat.
Brian juga menyoroti keberadaan Tsinghua Southeast Asia Center di Bali yang dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat jejaring kerja sama antara Indonesia, China, Asia Tenggara, dan komunitas internasional.
Pusat tersebut diluncurkan di Bali pada November 2022, bertepatan dengan penyelenggaraan KTT G20. Sejak berdiri, Tsinghua Southeast Asia Center menjadi salah satu wadah untuk mendukung pertukaran akademik, pengembangan talenta, serta kerja sama Universitas Tsinghua dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.
“Indonesia melihat Tsinghua Southeast Asia Center sebagai jembatan potensial yang menghubungkan China, Indonesia, Asia Tenggara dan komunitas internasional yang lebih luas,” ujar Brian.
Ia menilai ekosistem yang berkembang di KEK Kura-Kura Bali juga memberikan ruang bagi perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan berbagai mitra lainnya untuk membangun kerja sama yang lebih konkret.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi kolaborasi yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata.
Brian menegaskan Indonesia berkomitmen memperluas kemitraan internasional di bidang pendidikan tinggi dan penelitian. Fokusnya mencakup penguatan kapasitas riset, pengembangan inovasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan.
Ia berharap momentum 10 tahun strategi global Universitas Tsinghua dapat dimanfaatkan bukan sekadar untuk memperingati capaian yang telah diraih, melainkan juga memperbarui komitmen terhadap pengembangan pengetahuan, inovasi, kemitraan, dan pembangunan yang damai.
Brian turut menyambut kedatangan Rektor Universitas Tsinghua Qiu Yong bersama delegasinya ke Indonesia. Ia berharap forum tersebut menghasilkan pertukaran gagasan dan pembahasan yang dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama konkret.
Kerja sama tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi perguruan tinggi, dunia industri, serta masyarakat di Indonesia, China, dan kawasan Asia Tenggara.
