Jakarta, lajunetwork.id – Kenaikan harga energi global dinilai membawa peluang sekaligus tantangan bagi industri asuransi energi. Di satu sisi, meningkatnya harga minyak berpotensi mendongkrak pendapatan premi asuransi, namun di sisi lain juga memicu kenaikan biaya klaim akibat tekanan inflasi.
Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana mengatakan tingginya harga minyak meningkatkan nilai produksi, aset, dan pengiriman di sektor hulu migas. Kondisi tersebut membuat nilai pertanggungan asuransi ikut meningkat sehingga berpotensi menambah pendapatan premi perusahaan asuransi.
“Kalau harga minyak tinggi, nilai produksi dan nilai pengiriman juga meningkat. Dengan nilai pertanggungan yang lebih besar, potensi premi yang diterima perusahaan asuransi juga ikut meningkat,” kata Adi dalam acara Literasi Asuransi Energi di Jakarta, Kamis.
Menurut Adi, kenaikan harga minyak juga berdampak pada meningkatnya nilai kargo migas yang diangkut melalui jalur laut maupun moda transportasi lainnya. Semakin tinggi nilai barang yang diasuransikan, semakin besar pula nilai pertanggungan dan premi yang dibayarkan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan premi tidak otomatis meningkatkan keuntungan perusahaan asuransi. Harga energi yang tinggi turut mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi yang pada akhirnya memicu inflasi.
“Kenaikan inflasi berpotensi membuat biaya klaim menjadi lebih besar karena harga barang, biaya perbaikan, hingga jasa pendukung juga ikut meningkat,” ujarnya.
Karena itu, Tugu Insurance terus mengendalikan biaya operasional agar tetap memiliki ruang untuk mengantisipasi peningkatan nilai klaim di masa mendatang.
Adi menegaskan kinerja perusahaan asuransi energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya premi yang diterima, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara pendapatan premi dan kewajiban pembayaran klaim.
“Kami tidak bisa langsung mengatakan harga minyak yang tinggi otomatis membuat kinerja lebih baik. Semua tetap bergantung pada perkembangan klaim. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara aset yang diasuransikan dengan potensi kewajiban di masa depan,” katanya.
Selain dipengaruhi pergerakan harga minyak, prospek industri asuransi energi juga didorong meningkatnya investasi di sektor minyak dan gas bumi. Menurut Adi, sejumlah proyek hulu migas, terutama di wilayah lepas pantai (offshore), diperkirakan akan memperluas kebutuhan perlindungan asuransi.
Ia memperkirakan bisnis asuransi energi masih berpotensi tumbuh sekitar 18 persen, seiring meningkatnya investasi dan pembangunan infrastruktur migas di Indonesia.
Saat ini, lini bisnis energi menyumbang sekitar 30 persen dari total portofolio bisnis Tugu Insurance. Adi mengatakan sektor tersebut menjadi salah satu kontributor terbesar karena hanya sedikit perusahaan asuransi yang memiliki kapasitas keuangan serta dukungan reasuransi internasional untuk menanggung risiko proyek-proyek migas berskala besar.
Selain menyediakan perlindungan asuransi, Tugu Insurance juga berperan sebagai mitra manajemen risiko bagi pelaku industri migas melalui layanan penilaian risiko (risk assessment) dan penyusunan strategi pencegahan kerugian (loss prevention).
Menurut Adi, pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya investasi di sektor energi nasional, sehingga proyek-proyek strategis dapat berjalan dengan sistem mitigasi risiko yang lebih kuat dan berkelanjutan.
