Jakarta, lajunetwork.id – Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa mengapresiasi langkah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang secara konsisten menyampaikan perkembangan penyaluran bantuan pemerintah bagi masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hensa menilai Teddy sejauh ini menjalankan peran komunikasi pemerintahan dengan cukup baik, terutama dalam menjembatani instruksi Presiden Prabowo Subianto dengan pelaksanaan kebijakan di lapangan.
Dalam perkembangan terbaru, Teddy menyampaikan bahwa pemerintah kembali mengirim 65 ton logistik menggunakan lima pesawat. Dengan tambahan tersebut, total bantuan logistik yang telah dikirimkan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT sejak hari pertama mencapai 253 ton.
“Apa yang disampaikan Teddy ini bisa jadi contoh bahwa pemerintah bekerja. Mau orang suka atau tidak suka kepada pemerintah, kalau pesawatnya terbang dan bantuannya benar-benar dikirim, ya masa kita harus bilang itu tidak ada?” kata Hensa dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Menurut pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu, penyampaian informasi mengenai jumlah bantuan dapat menjadi bentuk transparansi pemerintah kepada masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa besarnya angka bantuan yang dikirim belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan penanganan bencana.
Hensa menilai fokus utama pemerintah seharusnya memastikan bantuan yang telah diberangkatkan benar-benar diterima masyarakat yang terdampak.
Kecepatan, ketepatan sasaran, dan pemerataan distribusi dinilai lebih penting dibandingkan sekadar menunjukkan jumlah logistik yang telah dikirim.
“Jangan sampai kita hebat sekali menghitung berapa ton yang berangkat, tetapi lupa bertanya berapa yang sudah sampai ke tangan warga. Ini harus dijaga juga,” ujarnya.
Karena itu, menurut Hensa, pemerintah perlu memastikan rantai distribusi berjalan hingga tingkat masyarakat yang membutuhkan. Informasi mengenai jumlah bantuan yang dikirim idealnya juga diikuti penjelasan mengenai distribusi dan penerima manfaat.
Hensa menilai Teddy cukup efektif menjalankan fungsi komunikasi pemerintah. Menurut dia, Seskab tidak sekadar menyampaikan bahwa Presiden telah memberikan instruksi, tetapi juga memaparkan sejumlah tindak lanjut yang dilakukan pemerintah.
Informasi yang disampaikan mencakup jumlah bantuan, sarana transportasi yang digunakan, hingga proses distribusinya.
“Teddy juga tidak hanya membawa angka, tetapi menjelaskan apa saja yang dibawa dan bagaimana pengirimannya. Setidaknya ada yang bisa ditagih masyarakat dari dia,” kata Hensa.
Menurutnya, pola komunikasi tersebut membuat publik memiliki informasi yang lebih konkret untuk memantau pelaksanaan kebijakan pemerintah, khususnya dalam situasi tanggap bencana.
Hensa juga melihat konsistensi Teddy dalam menyampaikan perkembangan penanganan bencana berpotensi meningkatkan citranya di mata publik.
Menurut dia, posisi Teddy berbeda dengan kepala daerah, pimpinan partai politik, atau menteri yang secara langsung mengelola program pelayanan masyarakat.
Meski demikian, Hensa mengingatkan agar peningkatan popularitas tidak menjadi tujuan utama dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Ia menilai popularitas seharusnya muncul sebagai konsekuensi dari kinerja yang baik, bukan sebaliknya.
“Kalau kerja bagus kemudian populer, ya silakan. Yang bahaya itu kalau urutannya dibalik: ingin populer dulu, kerjanya nanti,” ujarnya.
Dalam konteks penanganan bencana di NTT, Hensa mengatakan ukuran keberhasilan pemerintah pada akhirnya bukan hanya terletak pada jumlah bantuan yang dikirim.
Menurut dia, hal yang paling penting adalah memastikan seluruh logistik yang telah diberangkatkan benar-benar diterima masyarakat terdampak.
“Untuk urusan NTT ini, pemerintah tinggal membuktikan satu hal sederhana, 253 ton itu sampai ke rakyat atau tidak,” ucap Hensa.
