Ambon – Peringatan Hari Pendidikan Nasional kembali menjadi refleksi penting bagi kondisi pendidikan di Indonesia. Di tengah semangat memperingati hari bersejarah ini, berbagai persoalan mendasar masih membayangi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Keterbatasan akses pendidikan menjadi salah satu masalah utama yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Banyak daerah di pelosok Indonesia termasuk di Maluku masih kesulitan mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Selain itu, kualitas tenaga pengajar yang belum merata turut memperparah kondisi tersebut. Tidak sedikit sekolah di Maluku yang kekurangan guru berkualitas, sehingga berdampak langsung pada mutu pembelajaran.
Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah kurikulum yang dinilai belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan zaman. Ketidaksesuaian ini membuat lulusan pendidikan belum siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun perkembangan global. Di sisi lain, kesenjangan pendidikan antar daerah masih terlihat jelas, memperlihatkan ketidakmerataan pembangunan pendidikan di Indonesia.
Minimnya fasilitas pendidikan juga menjadi hambatan serius. Banyak sekolah di kota Ambon dan beberapa Kabupaten di Maluku yang masih kekurangan sarana dan prasarana dasar, mulai dari ruang kelas hingga akses teknologi. Ditambah lagi dengan masalah finansial yang dihadapi siswa, kemiskinan menjadi faktor utama tingginya angka putus sekolah di Maluku.
Menanggapi kondisi ini, Ketua Umum DPD IMM Maluku, M. Saleh Souwakil, menegaskan bahwa ketertinggalan pendidikan merupakan persoalan serius yang harus mendapat perhatian dan pengawalan bersama. Ia menilai bahwa isu pendidikan saat ini telah menjadi isu nasional yang membutuhkan langkah konkret dari pemerintah dan pemerintah daerah, khususnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Ketertinggalan pendidikan bukan lagi persoalan daerah semata, tetapi sudah menjadi tanggung jawab nasional yang harus segera diselesaikan,” ujarnya.
