Jakarta, lajunetwork.id – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI mendorong penggunaan pendekatan kreatif untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah mengatakan literasi kreatif dapat membuat pemahaman mengenai nilai kebangsaan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari karena disampaikan melalui pengalaman langsung.
Hal tersebut disampaikan Siti saat menghadiri kegiatan Literasi Kreatif bertajuk “Pilar Kebangsaan, Aroma Kedamaian: Meracik Harmoni Empat Pilar MPR RI melalui Aromaterapi” di Perpustakaan MPR RI, kompleks parlemen, Jakarta, Senin.
“Saya sangat mendukung literasi kreatif ini. Karena ini memang dikaitkan dengan Empat Pilar, di mana bahan-bahannya tadi kalau bisa terdiri dari empat macam,” ujar Siti.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 50 pegawai MPR diajak meracik aromaterapi menggunakan sejumlah bahan dengan karakter aroma yang berbeda. Peserta kemudian memadukan bahan-bahan tersebut hingga menghasilkan aroma yang dinilai harmonis.
Bagi Siti, proses meracik aroma tersebut dapat menjadi gambaran mengenai keberagaman masyarakat Indonesia. Perbedaan yang ada dapat menghasilkan sesuatu yang baik apabila dipadukan dalam semangat persatuan.
Ia mengatakan keselarasan berbagai aroma menjadi analogi bahwa perbedaan tidak harus menjadi penghalang untuk menciptakan keharmonisan.
“Coba kalau tidak ada keselarasan antara wanginya, mungkin hasilnya juga tidak bagus, wanginya tidak enak. Nah, ini adalah salah satu pencerminan dari Empat Pilar tersebut,” katanya.
Siti menilai penyampaian nilai-nilai kebangsaan tidak seharusnya hanya dilakukan melalui penjelasan teoritis. Metode kreatif, menurut dia, dapat memberikan pengalaman langsung sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami.
Karena itu, ia menyatakan kegiatan serupa akan terus dikembangkan di lingkungan MPR RI.
Selain menjadi sarana literasi, keterampilan meracik aromaterapi juga dinilai memiliki potensi ekonomi. Peserta diharapkan dapat mengembangkan keterampilan tersebut menjadi peluang usaha sekaligus membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada pegawai lainnya.
“Kita berbeda-beda suku bangsa, agama, dan latar belakang, tetapi kita harus menjadi satu untuk peningkatan MPR dan menjaga keutuhan NKRI,” ujar Siti.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi MPR RI Budi Muliawan mengatakan kegiatan Literasi Kreatif merupakan bagian dari inovasi Perpustakaan MPR untuk meningkatkan minat baca sekaligus mendorong pegawai memanfaatkan fasilitas perpustakaan.
Menurut Budi, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca. Ruang yang tersedia juga dapat digunakan pegawai untuk bekerja, berdiskusi maupun menggelar rapat.
“Kami ingin teman-teman lebih sering hadir ke perpustakaan. Di sini tersedia berbagai ruangan yang bisa dimanfaatkan untuk bekerja maupun rapat,” kata Budi.
Ia juga mengajak para pegawai membawa anak-anak mereka untuk berkunjung ke perpustakaan. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya membaca kepada anak sejak usia dini.
Budi mengatakan Perpustakaan MPR RI juga membuka ruang bagi pegawai untuk memberikan masukan terkait koleksi buku yang perlu ditambah.
Usulan tersebut, kata dia, akan dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan anggaran.
Selain dimanfaatkan pegawai, Perpustakaan MPR RI secara berkala menerima kunjungan dari pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Hal itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses serta pemanfaatan fasilitas literasi yang dimiliki MPR.
Kegiatan literasi kreatif tersebut dipandu Gita Rinjani yang berprofesi sebagai perfumer, educator olfaktori, sekaligus konsultan desain aroma.
