Jakarta, lajunetwork.id – Presiden Prabowo Subianto menandai dimulainya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela yang berlokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Menurut Prabowo, proyek migas bernilai investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp340 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS) itu merupakan proyek yang telah dinantikan selama hampir tiga dekade.
Peresmian peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan secara virtual dari Istana Merdeka, Jakarta, Kamis. Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan proyek tersebut harus segera diselesaikan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat dan memperkuat ketahanan energi nasional.
“Proyek strategis nasional Abadi Masela merupakan proyek yang sangat penting. Hampir tiga dasawarsa kita menunggu proyek ini, dan hari ini akhirnya pembangunan dimulai,” kata Prabowo.
Presiden meminta seluruh pihak yang terlibat menjaga percepatan pelaksanaan proyek sehingga tidak mengalami penundaan. Menurut dia, proyek strategis semacam ini harus diselesaikan sesuai target agar dapat segera berkontribusi terhadap kebutuhan energi nasional.
“Pembangunan tidak boleh terhambat. Harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ujarnya.
Prabowo mengatakan Indonesia memiliki cadangan sumber daya energi yang besar dan harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembangunan jangka panjang. Salah satu potensi tersebut berada di wilayah perairan Tanimbar yang telah diketahui memiliki cadangan gas alam dalam jumlah besar sejak hampir tiga dekade lalu.
Menurut dia, dimulainya pembangunan LNG Abadi Masela menjadi bukti bahwa potensi energi nasional yang selama ini tersimpan mulai diwujudkan menjadi proyek yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Presiden juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan proyek, termasuk perusahaan energi asal Jepang INPEX, perusahaan migas Malaysia Petronas, serta PT Pertamina yang menjadi mitra dalam pengembangan lapangan gas tersebut.
Proyek LNG Abadi Masela dikembangkan oleh INPEX Masela Ltd. bersama Pertamina dan Petronas dengan total investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS. Pemerintah menargetkan proyek ini menjadi salah satu pusat industri gas alam terbesar di kawasan Indonesia timur.
Selain memperkuat pasokan energi nasional, proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong tumbuhnya industri pendukung, serta mempercepat pemerataan pembangunan ekonomi di wilayah timur Indonesia.
