Sikka, NTT lajunetwork.id – Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau langsung kondisi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis. Dalam kunjungan tersebut, Wapres menyambangi lokasi pengungsian di SD Inpres Wairklau, berdialog dengan warga, serta melihat sejumlah fasilitas umum yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Wapres Gibran tiba di lokasi pengungsian bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Bencana tersebut berdampak terhadap masyarakat di sejumlah wilayah dan menyebabkan warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Saat berada di SD Inpres Wairklau, Gibran menyempatkan diri berbincang dengan warga yang masih bertahan di tenda pengungsian. Ia menanyakan kondisi anak-anak serta memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi selama berada di lokasi pengungsian.
“Anaknya sudah makan?” tanya Gibran kepada warga.
Wapres juga memastikan kondisi kesehatan anak-anak yang berada di pengungsian. Ia menanyakan apakah terdapat anak yang mengalami luka atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Anaknya enggak ada luka atau apa, kan? Luka enggak? Aman, ya?” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran turut membagikan sejumlah mainan dan buku kepada anak-anak yang berada di lokasi pengungsian. Ia juga menyerahkan peralatan bayi kepada salah seorang ibu sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan warga terdampak bencana.
Kunjungan ke lokasi pengungsian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kebutuhan masyarakat tetap mendapat perhatian selama masa tanggap darurat. Selain kebutuhan dasar, keberlangsungan pendidikan anak-anak juga menjadi perhatian di tengah kondisi pascabencana.
Pemerintah diharapkan tidak hanya memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak, tetapi juga memastikan anak-anak dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dalam kondisi yang aman dan layak. Dukungan psikososial dan kebutuhan anak selama berada di pengungsian juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Setelah mengunjungi pengungsian di SD Inpres Wairklau, Wapres Gibran melanjutkan peninjauan ke Pelabuhan Laurentius Say. Pelabuhan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah NTT.
Di lokasi pelabuhan, Gibran bersama Menko PMK Pratikno dan Kepala BNPB Suharyanto melihat secara langsung kondisi dermaga yang terdampak gempa. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi fasilitas serta dampak kerusakan yang ditimbulkan bencana terhadap infrastruktur.
Dari Pelabuhan Laurentius Say, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Gereja Santa Maria Magdalena Nangahure. Bangunan gereja tersebut juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa.
Rangkaian kunjungan Wapres tersebut menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kondisi masyarakat sekaligus sejumlah fasilitas publik dan tempat ibadah yang terdampak bencana.
Berdasarkan laporan BNPB hingga Rabu (19/8) pukul 20.00 WIB, gempa bumi yang melanda wilayah NTT telah menyebabkan 71 orang meninggal dunia.
Selain korban jiwa, bencana tersebut juga membuat puluhan ribu warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka. BNPB mencatat jumlah pengungsi di seluruh wilayah NTT mencapai 59.647 orang. Jumlah pengungsi terbanyak tercatat berada di Kabupaten Manggarai.
Penanganan terhadap para pengungsi terus dilakukan, termasuk melalui distribusi bantuan dan logistik ke sejumlah wilayah terdampak.
Hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB, distribusi logistik melalui jalur udara telah mencapai 165 ton. Sementara itu, total bantuan yang dikirim selama periode 15 hingga 18 Agustus 2026 mencapai 398 ton.
Meski pengiriman melalui udara dilakukan untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan secara cepat, jalur darat masih menjadi moda utama dalam pendistribusian bantuan kepada masyarakat terdampak.
Kunjungan Wapres Gibran ke Sikka menjadi bagian dari rangkaian penanganan pascabencana sekaligus upaya pemerintah melihat langsung kondisi masyarakat dan fasilitas yang terdampak gempa. Pemerintah bersama pemerintah daerah dan lembaga terkait terus melakukan penanganan serta distribusi bantuan bagi warga yang masih berada di pengungsian.
