Jakarta, lajunetwork.id – Kinerja pasar saham Indonesia terus berada dalam tekanan sepanjang 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis (4/6), memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.47 WIB, IHSG turun 187,08 poin atau 3,15 persen ke level 5.753. Koreksi tersebut membuat indeks acuan Bursa Efek Indonesia semakin menjauh dari posisi awal tahun.
Data perdagangan menunjukkan bahwa sejak Januari 2026 hingga saat ini, IHSG telah kehilangan sekitar 33,97 persen nilainya. Penurunan tersebut menjadi salah satu pelemahan terdalam yang dialami pasar saham domestik dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan jual juga masih terlihat kuat dalam jangka pendek. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat turun sekitar 7,61 persen. Sementara itu, dalam satu bulan terakhir indeks terkoreksi 17,78 persen, dan dalam tiga bulan terakhir melemah hingga 25,58 persen.
Pelemahan pasar terlihat merata di berbagai sektor dengan dominasi saham yang bergerak di zona negatif. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 687 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 61 saham menguat dan 59 saham tidak mengalami perubahan.
Aktivitas perdagangan terbilang cukup tinggi. Nilai transaksi mencapai Rp12,38 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 22,24 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,34 juta kali transaksi. Di tengah tekanan tersebut, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat berada di level Rp10.141 triliun.
Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, IHSG langsung bergerak melemah sebesar 67,51 poin atau 1,14 persen ke posisi 5.873. Indeks sempat bergerak dalam kisaran 5.919 hingga 5.924 sebelum kembali tertekan oleh aksi jual investor.
Pada awal sesi perdagangan, sebanyak 314 saham berada di zona merah, sementara 102 saham menguat dan 217 saham bergerak stagnan.
Pelemahan pasar saham terjadi bersamaan dengan tekanan yang melanda pasar keuangan domestik secara lebih luas. Pada hari yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dan stabilitas keuangan nasional.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Meski peluang penguatan teknikal tetap ada, tren utama pergerakan indeks masih menunjukkan arah penurunan.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG masih cenderung melemah. Menurutnya, investor perlu mencermati area koreksi yang berada pada rentang 5.755 hingga 5.814, sementara peluang penguatan jangka pendek diperkirakan berada di kisaran 5.958 hingga 5.984.
Ia juga memperkirakan level support IHSG berada di area 5.899 dan 5.755, sedangkan level resistance berada pada posisi 6.111 dan 6.286.
Pandangan serupa disampaikan Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova. Menurutnya, tren penurunan IHSG masih terkonfirmasi dan berpotensi membawa indeks menuju level yang lebih rendah dalam waktu dekat.
“IHSG terkonfirmasi melanjutkan tren turun yang diperkirakan bisa mencapai 5.673 sebagai target terdekat,” ujarnya.
Ivan menambahkan, peluang terjadinya pemulihan atau rebound baru akan terbuka apabila indeks mampu bertahan di atas area tersebut dan menunjukkan sinyal pembalikan arah yang lebih kuat.
Dengan penurunan hampir 34 persen sejak awal tahun serta koreksi lebih dari 7 persen hanya dalam sepekan, pelaku pasar kini menanti berbagai sentimen baru yang dapat mengembalikan kepercayaan investor. Hingga saat ini, kombinasi tekanan eksternal dan domestik masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.
