Pelalawan, lajunetwork.id – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, mengungkapkan Indonesia membutuhkan sekitar 540 ribu sekat kanal untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau.
Pernyataan tersebut disampaikan Jumhur saat melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis, dalam rangka meninjau kesiapan daerah menghadapi ancaman musim kemarau panjang dan fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026.
Menurut Jumhur, karakteristik lahan gambut yang luas di Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan karhutla. Lahan gambut yang tidak terjaga kelembapannya dan terus terpapar panas matahari berpotensi mengalami peningkatan suhu hingga memicu kebakaran.
“Untuk menekan kebakaran hutan dan lahan hingga mendekati nol, Indonesia membutuhkan sekitar 540 ribu sekat kanal. Saat ini jumlah yang telah dibangun baru sekitar 50 ribu unit atau sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional,” ujar Jumhur.
Ia menjelaskan, sekat kanal berfungsi menjaga tinggi muka air di lahan gambut sehingga area tersebut tetap basah dan tidak mudah terbakar. Selain sebagai langkah mitigasi karhutla, infrastruktur tersebut juga dapat berfungsi sebagai penyimpanan cadangan air saat musim kemarau.
Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan sekat kanal melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, hingga lembaga nonpemerintah.
“Kami mengundang semua pihak untuk terlibat dalam percepatan pembangunan sekat kanal. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan dan mencegah bencana kebakaran,” katanya.
Selain aspek teknis pembangunan, Jumhur menegaskan pentingnya memperhatikan kondisi sosial masyarakat sekitar. Menurutnya, setiap program pembangunan sekat kanal harus mempertimbangkan dampaknya terhadap aktivitas warga dan mengedepankan pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan ratusan ribu sekat kanal masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan dukungan berbagai sumber pendanaan.
Dalam kesempatan tersebut, Jumhur juga menyoroti ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan menyebabkan cuaca lebih panas dan kemarau berkepanjangan di sejumlah wilayah Indonesia hingga Oktober 2026.
Menurutnya, keberadaan sekat kanal akan sangat membantu dalam menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Air yang tertampung dapat digunakan untuk menjaga kelembapan lahan gambut sekaligus menjadi sumber air saat kondisi kering ekstrem.
Pemerintah, lanjutnya, juga membuka peluang untuk melakukan modifikasi cuaca atau hujan buatan guna menambah cadangan air di wilayah-wilayah rawan kebakaran.
“Ke depan kami akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kemungkinan pelaksanaan hujan buatan agar cadangan air di kawasan gambut tetap terjaga,” ujarnya.
Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke Pulau Mendol, Kabupaten Pelalawan, turut didampingi Bupati Pelalawan, Zukri Misran, Kapolda Riau, Herry Heryawan, perwakilan Pemerintah Provinsi Riau, serta jajaran BNPB.
Dalam dialog bersama masyarakat, Bupati Zukri menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi potensi dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung cukup panjang sepanjang tahun ini.
Menurutnya, berbagai prakiraan cuaca menunjukkan bahwa puncak musim kemarau berpotensi terjadi pada periode Juli hingga September 2026, sementara kondisi kering diprediksi dapat berlangsung hingga Desember.
“Potensi El Nino tahun ini diperkirakan cukup panjang. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan bergotong royong menjaga lingkungan agar terhindar dari kebakaran hutan dan lahan,” kata Zukri.
Ia menambahkan, berbagai langkah preventif yang saat ini dilakukan pemerintah merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk meminimalkan dampak kemarau panjang, sekaligus melindungi masyarakat dari risiko bencana lingkungan yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi maupun kesehatan.
Dengan percepatan pembangunan sekat kanal, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat, pemerintah berharap risiko kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan secara signifikan meskipun Indonesia menghadapi ancaman musim kemarau dan El Nino yang berkepanjangan.
