Batam, lajunetwork.id – Realisasi investasi di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), mencapai sekitar Rp40 triliun pada Semester I 2026. Capaian tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi sekaligus kepercayaan pelaku usaha terhadap Batam sebagai salah satu kawasan investasi.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad mengatakan perkembangan investasi tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan penguatan konektivitas daerah.
“Realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 telah mencapai sekitar Rp40 triliun. Ini menunjukkan tingginya kepercayaan dunia usaha terhadap Batam sebagai kawasan investasi sekaligus sebagai pusat pertumbuhan ekonomi,” ujar Amsakar dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Minggu.
Selain investasi, perekonomian Batam juga menunjukkan pertumbuhan. Pada Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut tercatat sebesar 7,28 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang berada pada level 6,76 persen.
Amsakar menyebut perkembangan sejumlah indikator ekonomi tersebut menunjukkan aktivitas perekonomian Batam terus bergerak.
“Angka-angka makro ekonomi kita hari ini menunjukkan geliat yang membanggakan. Pertumbuhan ekonomi kita berada di angka 7,28 persen dan investasi terus bergerak. Ini menunjukkan bahwa Batam memiliki fondasi ekonomi yang semakin kuat,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi dan investasi tersebut juga diikuti meningkatnya perhatian investor terhadap sektor teknologi dan infrastruktur digital di Batam.
Amsakar mencontohkan rencana pembangunan kampus Nvidia DSX AI Factory di Batam. Proyek tersebut dikembangkan Firmus Technologies, perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan asal Australia, melalui kerja sama strategis dengan Nvidia dan DayOne.
Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas 360 megawatt dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2027.
Menurut Amsakar, masuknya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan pusat data menunjukkan perkembangan sektor ekonomi Batam yang tidak lagi terbatas pada industri konvensional.
“Batam sekarang sudah tidak lagi hanya diperbincangkan di level nasional, tetapi sudah menjadi perhatian dunia internasional. Kita bisa melihat bagaimana investasi di bidang AI dan pusat data mulai masuk ke Batam. Ini menunjukkan bahwa Batam memiliki posisi yang semakin strategis,” ujarnya.
Selain investasi, Amsakar menyoroti perkembangan konektivitas Batam yang turut mendukung posisi daerah tersebut dalam jaringan perdagangan internasional.
Berdasarkan catatan UN Trade and Development (UNCTAD), Batam masuk dalam daftar 10 pelabuhan dengan pertumbuhan Port Liner Shipping Connectivity Index (PLSCI) tertinggi di dunia pada kuartal II 2026. Batam tercatat berada di posisi keenam.
Amsakar mengatakan capaian tersebut menunjukkan posisi Batam dalam jalur perdagangan internasional semakin didukung oleh perkembangan infrastruktur dan konektivitas pelabuhan.
“Semua ini menunjukkan bahwa Batam sedang bergerak. Investasi tumbuh, ekonomi tumbuh, konektivitas semakin kuat, dan perhatian dunia terhadap Batam semakin besar,” katanya.
Meski berbagai indikator ekonomi menunjukkan perkembangan positif, Amsakar menekankan bahwa capaian investasi dan pertumbuhan ekonomi tidak semestinya hanya diukur melalui angka.
Menurut dia, peningkatan aktivitas ekonomi harus memberikan dampak langsung terhadap masyarakat Batam.
“Pertumbuhan ekonomi dan investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik melalui pembukaan lapangan kerja, perkembangan usaha masyarakat, peningkatan pelayanan publik, maupun pembangunan infrastruktur,” ujarnya.
Dengan demikian, peningkatan investasi dan konektivitas diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Batam sebagai kawasan strategis perdagangan dan industri, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat serta memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi di daerah
