Jakarta – Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, Dony Oskaria, menegaskan pihaknya akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional kereta api guna meningkatkan aspek keselamatan. Langkah ini diambil menyusul kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur.
“Akan segera kami melakukan evaluasi menyeluruh baik terhadap operasional kereta api kita, terutama yang berkaitan dengan keamanan,” ujar Dony saat ditemui di sela acara Jakarta Globe Insight di Jakarta, Selasa.
Dony mengungkapkan terdapat sekitar 1.800 perlintasan kereta api yang perlu ditingkatkan kualitasnya guna mencegah kecelakaan serupa di masa mendatang. Menurutnya, persoalan ini juga telah mendapat perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto.
Bentuk perhatian tersebut diwujudkan melalui rencana alokasi anggaran hampir Rp4 triliun untuk perbaikan perlintasan, termasuk pembangunan pos jaga serta flyover di sejumlah titik rawan.
Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa pendanaan perbaikan akan dikombinasikan antara anggaran sektor perkeretaapian dan kontribusi dari BUMN lainnya yang turut berpartisipasi dalam meningkatkan keselamatan, baik bagi pengguna kereta api maupun masyarakat yang melintasi perlintasan.
“Ini menunjukkan perhatian yang serius terhadap transportasi massal ini. Presiden juga sangat mencintai transportasi umum kereta api,” tambahnya.
Kecelakaan yang melibatkan kereta api jarak jauh dan kereta komuter tersebut terjadi pada Senin (27/4) di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Berdasarkan keterangan Humas PT Kereta Api Indonesia Daop I Jakarta, insiden bermula ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line yang sedang berhenti di stasiun.
Peristiwa itu dipicu oleh sebuah taksi yang menabrak KRL di area perlintasan dekat Bulak Kapal.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa hingga pukul 08.45 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 14 orang.
