Jakarta, lajunetwork.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mendorong pelaku usaha lokal, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor halal, memperluas pasar hingga ke mancanegara. Upaya itu dilakukan melalui penyelenggaraan BSI International Expo 2026 yang diarahkan menjadi penghubung antara pelaku usaha dan pasar global.
Senior Executive Vice President (SEVP) Consumer Product Solution BSI sekaligus Project Leader BSI International Expo 2026, Wawan Setiawan, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan industri halal dunia. Namun, potensi tersebut masih perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas produksi dan ekspansi pasar.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan industri halal global. Karena itu, sebagai bank syariah BSI ingin mengambil peran lebih dari sekadar menyediakan layanan keuangan, tetapi menjadi penghubung antara pelaku usaha dengan pembiayaan, teknologi, transaksi, jaringan bisnis, dan akses pasar,” ujar Wawan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Menurut Wawan, besarnya pasar halal dunia membuka ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan kontribusi dalam rantai industri halal internasional. Ia menyebut data State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2026 yang dipaparkan dalam acara tersebut mencatat konsumsi industri halal global mencapai sekitar US$2,6 triliun pada 2024.
Angka itu disebut tumbuh rata-rata 6,5 persen per tahun dan diproyeksikan mencapai sekitar US$3,56 triliun pada 2029.
Industri halal global tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman. Ekosistemnya mencakup pariwisata halal, farmasi, kosmetik, media dan rekreasi, hingga keuangan syariah.
Wawan menilai perkembangan tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri halal dari sisi produksi maupun daya saing.
Indonesia memiliki basis konsumen domestik yang besar. Wawan menyebut jumlah penduduk Indonesia sekitar 290 juta jiwa, dengan 87,14 persen di antaranya beragama Islam.
Selain besarnya populasi, struktur demografi juga dinilai menjadi faktor pendukung. Kelompok milenial dan generasi Z disebut mencapai sekitar 51 persen populasi, sementara penduduk usia produktif berada di kisaran 69,3 persen.
Kondisi tersebut, menurut Wawan, dapat menjadi basis bagi pertumbuhan konsumsi sekaligus pengembangan bisnis halal di dalam negeri.
BSI tidak hanya menempatkan expo sebagai ajang promosi produk. Bank tersebut ingin mempertemukan pelaku usaha dengan pembiayaan, teknologi, jaringan bisnis, serta calon konsumen dan mitra dari berbagai pasar.
“Bagaimana nanti BSI bisa mengorkestrasi semua sehingga industri halal ini menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru di Indonesia,” kata Wawan.
Pendekatan tersebut diarahkan terutama kepada UMKM yang bergerak di sektor halal. Melalui agenda local go global, BSI ingin membantu produk usaha lokal meningkatkan jangkauan pasar dari domestik menuju internasional.
Peluang tersebut juga didukung oleh keberadaan jaringan BSI di Dubai serta rencana pembukaan cabang di Jeddah. Jaringan tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi produk halal Indonesia untuk menjangkau konsumen dan mitra usaha di luar negeri.
Dengan demikian, ekspansi UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi, tetapi juga pada akses pembiayaan, transaksi, jejaring bisnis, teknologi, dan pasar.
BSI International Expo 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22–25 Oktober 2026. Kegiatan tersebut akan melibatkan 426 tenant dari berbagai sektor usaha.
Expo itu dirancang untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen sekaligus mitra potensial. Selain memperkuat pasar domestik, penyelenggara menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas penetrasi produk halal Indonesia ke pasar internasional.
Bagi BSI, pengembangan ekosistem halal tidak berhenti pada transaksi keuangan. Perusahaan ingin memperluas peran sebagai penghubung berbagai unsur dalam rantai industri sehingga pelaku usaha lokal memiliki akses yang lebih luas untuk mengembangkan bisnis dan memasuki pasar global.
