Tangerang, lajunetwork.id – Proses identifikasi jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, sempat menghadapi kendala. Kondisi jasad yang mengalami kerusakan setelah diduga lama berada di dalam air membuat polisi tidak bisa mengandalkan pengenalan secara visual.
Jenazah tersebut kemudian dipastikan sebagai Surakman atau Sukarman (60), anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu I yang sebelumnya dilaporkan hilang bersama rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda, Banten.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan identifikasi dilakukan dengan membandingkan DNA jenazah dengan sampel antemortem dari keluarga korban.
“Pemeriksaan DNA itu banyak kendalanya. Contohnya wajahnya sudah tidak ada dan sebagainya karena lama di dalam dasar laut ataupun tenggelam,” kata Hengki dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Tangerang, Rabu.
Jenazah ditemukan warga di Pulau Enggano pada 12 September 2026, lima hari setelah KM Arupadatu I bersama penumpangnya dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September.
Temuan tersebut kemudian dikoordinasikan dengan Polda Bengkulu. Jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani proses identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Karena kondisi jasad sulit dikenali, tim kedokteran kepolisian menggunakan pemeriksaan DNA sebagai metode utama identifikasi. Sampel pembanding diperoleh dari keluarga korban.
Hengki mengatakan hasil pemeriksaan Bidang Laboratorium DNA Rotek Dokkes Polri pada 21 September 2026 menunjukkan DNA jenazah identik dengan Surakman. Hasil tersebut juga menunjukkan kecocokan sebagai ayah biologis dari putra korban.
“Dari antemortem keluarga korban yang ada, kita ambil sampelnya, dicocokkan dengan jenazah yang ditemukan. Maka dari hasil pemeriksaan DNA tersebut, dinyatakan identik dengan Bapak Surahman dan ayah biologis dari Tuan Niyayat,” ujar Hengki.
Selain pemeriksaan DNA, keluarga juga mengenali atribut yang dikenakan korban. Salah satunya celana pendek berwarna hitam yang disebut terakhir kali dipakai Surakman ketika berangkat mengantarkan rombongan jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk keperluan peliputan.
Polisi kemudian berkoordinasi dengan keluarga untuk proses penyerahan jenazah. Putra korban turut dihadirkan untuk mendampingi proses tersebut.
Hengki mengatakan tim terpadu masih bersiaga untuk menangani pencarian korban lain yang belum ditemukan. Polisi juga meminta nelayan dan pengguna transportasi laut melaporkan apabila menemukan benda atau tanda yang berkaitan dengan operasi pencarian.
Polda Banten mengapresiasi masyarakat dan nelayan yang ikut memberikan informasi selama proses pencarian berlangsung.
Operasi SAR sebelumnya melibatkan 523 personel gabungan. Tim menyisir sejumlah wilayah perairan dan pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau yang mencakup wilayah Banten, Lampung, hingga Bengkulu.
Sebanyak delapan orang dilaporkan berada dalam daftar pencarian setelah KM Arupadatu I hilang kontak pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas. Tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, serta Heriyanto yang merupakan pemandu.
Dengan teridentifikasinya Surakman, proses pencarian dan penanganan korban lain masih menjadi bagian dari upaya tim terpadu di wilayah perairan sekitar Selat Sunda hingga Bengkulu
