Kupang, lajunetwork.id – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai Festival Golo Koe 2026 memiliki peran penting dalam memperkuat pengembangan pariwisata Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Festival tersebut dinilai mampu memadukan nilai keagamaan, tradisi, budaya, sekaligus kehidupan masyarakat Manggarai dalam satu rangkaian kegiatan.
Widiyanti mengatakan penyelenggaraan Festival Golo Koe menjadi salah satu bentuk pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga menjaga identitas dan kehidupan masyarakat lokal.
“Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja,” ujar Widiyanti dalam keterangannya yang diterima di Kupang, Selasa.
Pernyataan itu disampaikan saat Widiyanti membuka Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Dalam kesempatan tersebut, Widiyanti mengingat kembali gagasan yang pernah disampaikan Keuskupan Ruteng sekitar lima tahun lalu mengenai arah perkembangan Labuan Bajo. Saat itu muncul pertanyaan mengenai bagaimana kawasan tersebut dapat terus tumbuh sebagai destinasi wisata tanpa meninggalkan nilai dan identitas masyarakat yang menjadi akar kehidupan setempat.
Menurut Widiyanti, Festival Golo Koe menjadi salah satu wadah untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui festival, wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman menikmati destinasi, tetapi juga dapat mengenal kehidupan, tradisi, dan nilai yang berkembang di tengah masyarakat Manggarai.
Ia menekankan pentingnya menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama dalam pengembangan pariwisata.
“Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” katanya.
Pendekatan tersebut, menurut dia, sejalan dengan konsep pariwisata berkualitas yang menempatkan pengalaman wisatawan dan kesejahteraan masyarakat sebagai dua hal yang saling mendukung.
Festival Golo Koe juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang semakin luas. Statusnya sebagai salah satu event unggulan nasional berjalan beriringan dengan meningkatnya keterlibatan pelaku usaha, pekerja seni, dan masyarakat setempat.
Pada penyelenggaraan 2025, Festival Golo Koe tercatat mampu menarik lebih dari 45.000 wisatawan. Kegiatan tersebut juga melibatkan 173 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sebanyak 883 pekerja seni, serta 1.473 tenaga kerja.
Dari penyelenggaraan tersebut, perputaran ekonomi yang tercipta diperkirakan mencapai sekitar Rp2,82 miliar.
“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa festival berbasis budaya dan kehidupan masyarakat dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus sarana memperkenalkan karakter suatu daerah kepada wisatawan.
Widiyanti memberikan apresiasi kepada Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, serta seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam mengembangkan Festival Golo Koe.
Ia berharap festival tersebut dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan Labuan Bajo menuju destinasi pariwisata berkelas dunia.
Namun, perkembangan tersebut diharapkan tetap berjalan seiring dengan penguatan kehidupan masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
“Labuan Bajo harus berkembang bersama masyarakat dan tetap berpegang pada akar budaya,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Festival Golo Koe diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan untuk menarik wisatawan, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi, memperkuat identitas masyarakat Manggarai, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi warga lokal.
