Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ditutup nyaris stagnan. Pada perdagangan Senin (30/3/2026), IHSG terkoreksi tipis 0,08% ke level 7.091,67.
Pergerakan indeks terlihat terbatas dengan tarik-menarik antara saham penggerak dan tekanan dari saham berkapitalisasi besar (big caps).
Beberapa saham mencatatkan penguatan signifikan, seperti DSSA yang melonjak lebih dari 6%, disusul DCII dan ASII yang juga berada di zona hijau.
Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk mengangkat indeks secara keseluruhan. Saham perbankan besar justru menjadi pemberat utama, dengan BBCA terkoreksi cukup dalam, diikuti BBRI dan BYAN yang juga melemah.
Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell). Nilainya mencapai sekitar Rp678 miliar di pasar reguler dan hampir Rp686 miliar di seluruh pasar.
Secara sektoral, pergerakan IHSG cukup bervariasi. Dari sebelas sektor yang ada, empat di antaranya ditutup di zona merah.
Sektor keuangan menjadi yang paling tertekan, sementara sektor energi justru mencatatkan kinerja terbaik seiring naiknya harga komoditas global.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan campuran. Dow Jones ditutup menguat tipis, sementara S&P 500 dan Nasdaq melemah.
Kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) memberikan sentimen positif bagi negara produsen, termasuk Indonesia.
Hal ini tercermin dari penguatan ETF berbasis Indonesia di pasar global.
Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus US$100 per barel mulai memicu kekhawatiran baru.
Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi global, yang turut memengaruhi sentimen investor terhadap pasar Indonesia.
Dari sisi kinerja emiten, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup solid sepanjang 2025.
Laba perusahaan meningkat hampir 25% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga dan pembiayaan syariah.
Meski demikian, ekspansi kredit juga diikuti dengan kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL), yang menjadi catatan bagi investor.
Manajemen BJTM menargetkan perbaikan kualitas kredit dengan menekan NPL ke level yang lebih sehat pada tahun ini.
Sementara itu, emiten baja Saranacentral Bajatama (BAJA) tengah menyiapkan aksi korporasi melalui rights issue dengan menerbitkan hingga 1 miliar saham baru.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan sekaligus menyelesaikan kewajiban utang kepada pihak terafiliasi.
Dengan dukungan pemegang saham utama sebagai pembeli siaga, aksi ini diharapkan bisa memberikan ruang perbaikan kinerja ke depan.
Secara keseluruhan, IHSG masih dibayangi tekanan eksternal dan aksi jual asing, meski sejumlah sentimen positif dari sektor komoditas tetap menjadi penopang pasar.
