Jakarta, lajunetwork.id – Persaingan memperebutkan investasi global tak lagi berhenti pada perbandingan antarnegara. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan investor kini memilih lokasi produksi dengan membandingkan kawasan industri secara langsung. Kondisi ini menuntut pengelola kawasan di Indonesia bergerak lebih cepat jika tak ingin kalah dari negara pesaing.
Agus mencontohkan, perusahaan global yang hendak membangun pabrik tidak lagi sekadar membandingkan Indonesia dengan Vietnam. Mereka menilai kawasan industri tertentu di Indonesia dan membandingkannya dengan kawasan industri di negara lain.
“Yang mereka bandingkan bukanlah Indonesia melawan Vietnam. Yang mereka bandingkan adalah sebuah kawasan di Jawa Tengah melawan sebuah kawasan di Binh Duong,” kata Agus saat membuka Rapat Kerja Nasional Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Jakarta, Kamis.
Menurut Agus, pergeseran tersebut menunjukkan bahwa medan persaingan ekonomi global telah bergerak dari level negara ke level kawasan. Karena itu, kualitas pengelolaan kawasan industri menjadi salah satu penentu utama apakah investasi akan masuk dan berkembang di Indonesia.
Tantangan itu semakin besar di tengah fragmentasi perdagangan dunia, gangguan rantai pasok, dan ketegangan geopolitik. Namun, Agus melihat perubahan peta produksi global sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai basis manufaktur.
Ia mengingatkan bahwa perusahaan yang sedang mempertimbangkan pemindahan fasilitas produksi tidak memiliki waktu panjang untuk menunggu kepastian investasi.
“Perusahaan yang hari ini sedang memindahkan produksinya dari satu negara ke negara lain tidak sedang menunggu Indonesia. Mereka sedang membandingkan kita dengan Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko, dan mereka melakukannya dalam hitungan bulan, bukan tahun,” ujarnya.
Karena itu, Agus meminta kawasan industri mengubah cara kerja. Menurut dia, kawasan industri tidak cukup hanya menyediakan lahan, listrik, air, dan fasilitas dasar. Pengelola harus menjadi investment enabler yang mampu membantu investor mempercepat realisasi proyek dari tahap komitmen hingga produksi.
“Nilai utama yang dicari investor adalah kecepatan mengubah komitmen investasi menjadi kegiatan produksi serta kepastian dalam proses bisnis,” kata dia.
Agus mengatakan kawasan industri ke depan harus berkembang menjadi ekosistem yang terintegrasi. Ekosistem itu mencakup rantai pasok, pusat inovasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga transformasi menuju industri hijau.
Ia menyebut sedikitnya ada tiga faktor yang akan menentukan daya saing kawasan industri. Pertama, perizinan yang cepat dan memberikan kepastian. Kedua, infrastruktur yang memadai. Ketiga, ketersediaan energi, terutama energi bersih dan terbarukan.
Kebutuhan energi hijau, kata Agus, kini telah bergeser dari sekadar isu lingkungan menjadi bagian dari tuntutan pasar global. Industri yang berorientasi ekspor semakin dituntut mengetahui asal energi yang digunakan dalam proses produksinya.
Tekanan itu terutama datang dari pasar negara maju yang menerapkan standar keberlanjutan lebih ketat. Agus mencontohkan pembeli dari Eropa yang mulai mempertanyakan sumber energi dalam proses produksi barang yang mereka beli.
“Kalau kawasan tidak mampu menjawab pertanyaan itu, mereka berisiko kehilangan penyewa, bukan karena regulasi kita, melainkan karena regulasi negara tujuan ekspor,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa daya saing kawasan industri Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh murahnya lahan atau ketersediaan tenaga kerja.
Kecepatan perizinan, kepastian berusaha, kualitas infrastruktur, dan kemampuan menyediakan energi bersih menjadi bagian dari paket yang dipertimbangkan investor.
Dengan persaingan yang semakin spesifik antar-kawasan, Agus menilai pengelola kawasan industri harus beradaptasi lebih cepat. Jika tidak, peluang relokasi industri global yang terbuka akibat perubahan rantai pasok dan geopolitik dapat berpindah ke negara lain yang menawarkan ekosistem produksi lebih siap.
