Jakarta, lajunetwork.id – Restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk diarahkan untuk memperkuat bisnis jalan tol. Perusahaan konstruksi pelat merah itu diproyeksikan menjadi salah satu pemain utama di sektor jalan tol setelah PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan fokus tersebut merupakan bagian dari strategi penataan ulang bisnis Waskita Karya. Menurut dia, penguatan bisnis jalan tol dapat menjadi pilihan selama seluruh aspek bisnisnya dihitung secara cermat.
“Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar,” kata Dony dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Menurut Dony, keputusan untuk memusatkan bisnis pada sektor jalan tol tidak cukup hanya dengan melihat besarnya aset yang dimiliki perusahaan. Strategi tersebut harus ditopang oleh perhitungan bisnis yang realistis, struktur keuangan yang sehat, serta proyeksi usaha yang mampu menghasilkan nilai tambah dalam jangka panjang.
Bisnis jalan tol dinilai memiliki karakteristik yang dapat memberikan pendapatan secara berkelanjutan. Karena itu, pengelolaan aset tol berpotensi menjadi fondasi bagi model bisnis Waskita Karya ke depan.
Namun, pengembangan bisnis tersebut baru dapat dilakukan setelah kondisi keuangan perusahaan kembali sehat. Waskita harus memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajibannya secara mandiri sekaligus memperbaiki kepercayaan pemangku kepentingan.
Kondisi keuangan yang lebih kuat juga akan membuka ruang bagi perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan baru, termasuk melalui pasar modal.
Dony menegaskan bahwa restrukturisasi Waskita tidak boleh sekadar menjadi upaya memperpanjang tenggat pembayaran kewajiban atau menunda persoalan keuangan yang dihadapi perusahaan. Proses tersebut harus menjadi bagian dari pembenahan fundamental agar perusahaan memiliki dasar bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Menurut dia, penyehatan perusahaan harus dibangun berdasarkan perhitungan yang realistis, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, restrukturisasi diharapkan menghasilkan solusi permanen yang tidak hanya membantu perusahaan memenuhi kewajiban, tetapi juga menciptakan nilai dalam jangka panjang.
Pembahasan mengenai restrukturisasi tersebut telah dilakukan Dony bersama jajaran Direksi Waskita Karya. Pertemuan itu membahas secara menyeluruh arah penataan kembali perusahaan, mulai dari valuasi aset, struktur dan kapasitas pembayaran utang, hingga proyeksi arus kas.
Selain itu, pembahasan mencakup penentuan model bisnis yang paling sesuai untuk menjaga keberlangsungan perusahaan di masa depan.
BP BUMN bersama Danantara akan terus mengawal proses restrukturisasi Waskita Karya. Pengawalan tersebut diarahkan agar proses penyehatan tidak berhenti pada penyelesaian persoalan keuangan dalam jangka pendek.
Transformasi yang diharapkan mencakup penajaman model bisnis, penguatan struktur keuangan, serta perbaikan tata kelola perusahaan. Dengan fondasi tersebut, Waskita Karya diharapkan dapat kembali tumbuh sebagai perusahaan yang sehat dan kompetitif serta memiliki ketahanan bisnis untuk menghindari persoalan serupa pada masa mendatang.
