Jakarta, lajunetwork.id – Pemerintah menyiapkan investasi sekitar Rp135 triliun untuk membangun 14 proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total kapasitas 5,3 gigawatt-peak (GWp). Proyek tersebut menjadi tahap awal dari program pembangunan PLTS berkapasitas total 100 GWp.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi memaparkan rencana tersebut saat Presiden Prabowo Subianto meninjau PLTS Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa.
Dalam kunjungan itu, Prabowo melihat langsung pengembangan PLTS Gilimanuk yang berada di kawasan Monumen Operasi Lintas Jawa-Bali. Presiden juga menerima paparan mengenai rencana pembangunan PLTS 100 GWp di berbagai wilayah Indonesia.
Prabowo dalam peninjauan tersebut didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo, serta Gubernur Bali Wayan Koster.
Program PLTS 100 GWp akan dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai jenis lahan dan infrastruktur, mulai dari lahan darat, waduk, hingga atap rumah dan bangunan industri.
Salah satu fokus program tersebut adalah mengurangi, bahkan secara bertahap menghilangkan, ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di sejumlah wilayah.
Selain meningkatkan bauran energi terbarukan, program tersebut diarahkan untuk memperluas akses listrik di daerah perdesaan. Pengembangan PLTS juga diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi produktif masyarakat, kendaraan listrik, penggunaan kompor induksi, hingga program hilirisasi.
Untuk tahap awal, 14 proyek PLTS dengan kapasitas gabungan sekitar 5,3 GWp diperkirakan membutuhkan investasi 7,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp135 triliun.
Pembangunan proyek-proyek tersebut diproyeksikan mampu memberikan efisiensi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga sekitar Rp4,6 triliun setiap tahun.
“Beberapa proyek telah menunjukkan hasil nyata, seperti peresmian PLTS di Pulau Rengit, Bangka Belitung, dan Pulau Sembur, Kepulauan Riau, yang berhasil menggantikan diesel secara penuh,” kata Eniya.
Di Pulau Sembur, pemanfaatan energi surya juga telah mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage yang membantu nelayan mempertahankan kualitas hasil tangkapan.
Sementara itu, pemerintah menargetkan kapasitas PLTS yang dikembangkan di Bali dapat mencapai sekitar 1 GWp.
Secara keseluruhan, pembangunan PLTS 100 GWp diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dolar AS atau setara Rp1.140 triliun. Program tersebut juga diproyeksikan menghasilkan efisiensi subsidi listrik sekitar Rp73,9 triliun setiap tahun.
Presiden Prabowo menargetkan seluruh program PLTS 100 GWp dapat direalisasikan dalam waktu tiga tahun. Namun, ia membuka kemungkinan agar pembangunan tersebut dapat dipercepat dan dituntaskan dalam dua tahun.
