Jakarta – Pernyataan mantan Ketua MPR Amien Rais yang menyerang secara terbuka Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya serta menyinggung Presiden Prabowo Subianto menuai kritik keras dari berbagai pihak.
Ketua Umum DPP Prabowo Mania 08, Akhmad Gojali Harahap, menilai pernyataan tersebut tidak pantas, berlebihan, dan cenderung sensasional. Ia bahkan menyebut pernyataan Amien Rais telah melampaui batas dan berpotensi menyesatkan publik.
“Sebagai orang yang pernah menjabat Ketua MPR dan dikenal sebagai tokoh bangsa, pernyataan seperti itu sangat tidak layak disampaikan di ruang publik,” ujar Gojali dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Menurut Gojali, selama ini Amien Rais dikenal sebagai intelektual. Namun, pernyataannya terkait Teddy Indra Wijaya dinilai tidak mencerminkan sikap akademis karena tidak didukung data, fakta, maupun riset yang jelas.
Ia juga mengaku prihatin sebagai akademisi melihat pernyataan tersebut. “Saya sebagai doktor di bidang politik merasa malu membaca pernyataan yang hanya bertujuan mencari perhatian dan popularitas, tetapi mengesampingkan nilai-nilai ilmiah,” katanya.
Lebih lanjut, Gojali menilai pernyataan Amien Rais terkesan sebagai upaya untuk kembali menarik perhatian publik. Namun, menurutnya, berbagai manuver yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil.
“Berulang kali mencoba kembali ke panggung politik dengan berbagai manuver, tetapi selalu gagal,” tegasnya.
Gojali juga menyarankan agar Amien Rais lebih bijak dalam menyikapi dinamika politik saat ini. Ia menilai pernyataan yang dilontarkan tidak hanya tidak mencerminkan sikap beradab, tetapi juga berpotensi melanggar hukum karena dianggap menyebarkan informasi yang tidak berdasar.
“Pernyataan tersebut bisa dikategorikan sebagai hoaks dan fitnah yang disampaikan secara terbuka. Karena itu, sebaiknya diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Gojali mengingatkan agar setiap tokoh publik tetap menjaga kualitas diskursus politik dengan mengedepankan isu yang berbasis data dan pemikiran yang konstruktif, bukan sekadar sensasi demi popularitas.
