Jakarta, lajunetwork.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat produk pangan olahan Indonesia berpotensi menghasilkan transaksi senilai 8,3 juta dolar AS atau sekitar Rp150,7 miliar dalam ajang Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York, Amerika Serikat.
Atase Perdagangan RI di Washington D.C. Ranitya Kusumadewi mengatakan pameran tersebut turut membuka peluang bagi tempe untuk dikembangkan dan menembus pasar Amerika Serikat.
Menurut dia, minat pembeli atau buyer terhadap tempe cukup tinggi, seiring dengan meningkatnya tren konsumsi pangan nabati di Negeri Paman Sam.
“Kami terus mengawal berbagai tindak lanjut dari penjajakan bisnis (business matching) yang terjadi selama pameran agar potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat,” ujar Ranitya dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Ranitya mengatakan tempe menjadi salah satu produk yang memiliki prospek besar berdasarkan serangkaian pertemuan bisnis dengan calon pembeli selama pameran.
Peluang tersebut tidak terlepas dari perubahan tren konsumsi masyarakat AS yang semakin mengarah pada pangan berbasis nabati (plant-based food), produk fermentasi, serta pola hidup sehat (healthy lifestyle). Perubahan tren tersebut dinilai dapat menjadi momentum bagi tempe untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di pasar AS.
Namun, Ranitya mengingatkan tingginya minat pasar harus diikuti dengan kesiapan pelaku usaha. Kapasitas produksi, kontinuitas pasokan, standar mutu, kualitas kemasan, hingga strategi pemasaran perlu diperkuat agar peluang penjajakan bisnis dapat diwujudkan menjadi kontrak ekspor yang berkelanjutan.
“Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran. Dengan demikian, peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam ajang SFFS, Paviliun Indonesia menghadirkan enam pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Beragam produk pangan ditampilkan untuk menjaring peluang kerja sama dengan calon pembeli dari pasar AS.
Produk yang dipamerkan antara lain kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, serta mi instan. Selain itu, terdapat berbagai produk yang mengusung konsep pangan sehat, seperti tempe, produk berbahan dasar kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, serta beragam pangan olahan lainnya.
Keikutsertaan Indonesia dalam pameran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar produk pangan nasional sekaligus mendorong pelaku usaha meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Amerika Serikat menjadi salah satu pasar ekspor utama bagi produk pangan Indonesia. Berdasarkan data Kemendag, AS merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua Indonesia setelah China.
Pada 2025, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke AS mencapai 5,97 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 14,06 persen dibandingkan nilai ekspor pada 2024 yang tercatat sebesar 5,23 miliar dolar AS.
Nilai ekspor pangan ke AS tersebut menyumbang sekitar 10,1 persen dari total ekspor pangan Indonesia ke seluruh dunia yang mencapai 59,04 miliar dolar AS pada 2025.
Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor pangan Indonesia ke AS mengalami fluktuasi. Pada 2021, nilainya mencapai 5,62 miliar dolar AS, kemudian meningkat menjadi 6,03 miliar dolar AS pada 2022. Nilai tersebut turun menjadi 4,96 miliar dolar AS pada 2023, sebelum kembali naik menjadi 5,23 miliar dolar AS pada 2024 dan 5,97 miliar dolar AS pada 2025.
Sementara itu, hubungan perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat juga menunjukkan perkembangan positif. Pada periode Januari-Mei 2026, total perdagangan kedua negara tercatat mencapai 18,44 miliar dolar AS.
Dari angka tersebut, ekspor Indonesia ke AS mencapai 12,73 miliar dolar AS, sedangkan impor dari AS tercatat sebesar 5,71 miliar dolar AS.
Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 7,02 miliar dolar AS terhadap Amerika Serikat sepanjang periode Januari-Mei 2026.
Adapun sepanjang 2025, total perdagangan Indonesia dan AS mencapai 43,80 miliar dolar AS. Nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar 30,96 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 12,85 miliar dolar AS.
Pada periode tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 18,11 miliar dolar AS.
Dengan besarnya potensi pasar AS dan meningkatnya minat terhadap produk pangan berbasis nabati, tempe dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu produk unggulan Indonesia.
Namun, realisasi peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan pasar, menjaga kualitas dan pasokan, serta memperkuat strategi ekspor secara berkelanjutan.
