Jakarta, lajunetwork.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stabil pada perdagangan Kamis. Rupiah berada di level Rp17.877 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah yang cenderung datar dipengaruhi oleh meredanya euforia pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil August 2026 Index Review.
“Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI,” kata Rully di Jakarta, Kamis.
MSCI mengumumkan hasil tinjauan indeks tersebut pada 12 Agustus 2026 waktu Central European Summer Time* (CEST). Seluruh perubahan dalam tinjauan indeks itu dijadwalkan berlaku pada penutupan perdagangan bursa 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index. Pada saat yang sama, tidak terdapat saham Indonesia yang masuk ke dalam indeks tersebut.
Penyesuaian juga dilakukan terhadap MSCI Global Small Cap Index untuk saham Indonesia. Dalam perubahan itu, satu saham Indonesia masuk ke dalam indeks, sedangkan sembilan saham dikeluarkan.
Perkembangan tersebut sebelumnya sempat memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, menurut Rully, pengaruh euforia tersebut mulai berkurang sehingga perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada perkembangan domestik, khususnya proses pengisian posisi di Bank Indonesia (BI).
Pemerintah diketahui telah mengirim Surat Presiden (Surpres) terkait pengisian jabatan Deputi Gubernur Senior BI dan Deputi Gubernur BI.
Untuk posisi Deputi Gubernur Senior BI, pemerintah mengajukan nama Aida S. Budiman. Sementara itu, dua nama yang diajukan untuk posisi Deputi Gubernur BI adalah Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori.
Selain faktor domestik, perkembangan situasi global juga masih menjadi perhatian pasar valuta asing.
Rully mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama karena belum terdapat terobosan dalam proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
“Dari global, masih terkait perkembangan konflik Timur Tengah, dimana tidak ada terobosan negosiasi Amerika dan Iran walaupun index sudah stabil di bawah 100 serta harga minyak yang mulai menjinak,” ujar Rully.
Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak mulai menunjukkan kecenderungan mereda. Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pasar karena pergerakan harga energi dapat memengaruhi sentimen terhadap perekonomian global dan pasar keuangan.
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah justru tercatat melemah. JISDOR berada di level Rp17.882 per dolar AS pada Kamis, naik dari posisi sebelumnya sebesar Rp17.876 per dolar AS.
Dengan demikian, meski kurs rupiah di pasar spot ditutup tidak berubah pada Rp17.877 per dolar AS, indikator JISDOR menunjukkan pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari yang sama.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Pasar masih akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, serta dinamika pasar keuangan global.
Dari dalam negeri, proses penentuan jajaran Deputi Gubernur Bank Indonesia juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
