Jakarta, lajunetwork.id – Pemerintah menyatakan Indonesia memiliki persediaan beras yang lebih kuat untuk menghadapi dampak El Nino. Hingga 12 Agustus 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tercatat mencapai 5,25 juta ton.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pengalaman menghadapi El Nino dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal pemerintah untuk memperkuat kesiapan pangan.
Menurut Amran, Indonesia pernah menghadapi El Nino pada 2016 dan mampu menjaga ketersediaan pangan. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi pembelajaran dalam menghadapi potensi El Nino yang kembali menguat.
“Dulu pernah El Nino tahun 2016, kita selamat. Sekarang kita sudah punya pengalaman menghadapi El Nino tiga kali,” ujar Amran di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ia membandingkan kesiapan saat ini dengan kondisi ketika Indonesia menghadapi El Nino pada 2023 dan 2024. Saat itu, persiapan stok dinilai belum memadai sehingga pemerintah harus melakukan impor beras hingga sekitar 7 juta ton.
“2023 dan 2024 persiapan agak kurang, sehingga impornya 7 juta ton. Sekarang kita sudah persiapkan El Nino, stok kita 5,2 juta ton,” kata Amran.
Fenomena El Nino saat ini menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi memengaruhi produksi pangan nasional. Berdasarkan informasi yang disampaikan pemerintah, fenomena tersebut telah memasuki kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Kondisi itu diproyeksikan membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan lebih panjang, terutama pada Agustus dan September.
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah menempatkan penguatan stok pangan sebagai salah satu strategi mitigasi. Untuk beras, pemerintah mengandalkan penyerapan produksi petani dalam negeri untuk memperkuat CBP.
Data Bapanas menunjukkan perubahan signifikan dalam posisi stok beras pemerintah. Pada awal September 2023, sebelum memasuki puncak El Nino, stok CBP tercatat sekitar 1,52 juta ton.
Sementara hingga 12 Agustus 2026, stok tersebut telah mencapai 5,25 juta ton. Angka ini meningkat sekitar 245,4 persen dibandingkan posisi pada September 2023.
Amran mengatakan peningkatan stok tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah mempercepat penyerapan gabah dan beras hasil panen petani melalui Perum Bulog.
Sejak 2025, pemerintah memperkuat penyerapan gabah dari petani dengan menerapkan kebijakan any quality. Kebijakan tersebut memungkinkan gabah petani tetap diserap meskipun kualitasnya tidak selalu berada pada kondisi ideal.
Menurut Amran, kebijakan itu bukan semata-mata ditujukan untuk menambah stok pemerintah. Penyerapan juga diperlukan untuk menjaga pendapatan petani ketika produksi melimpah.
“Kalau berasnya kadar airnya tinggi, diambil alih beban petani itu. Justru kalau tidak diserap, petani ini sangat resisten, sangat rentan untuk berubah menjadi bangkrut,” ujar Amran.
Ia mengatakan keberadaan Bulog diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.
“Hadir Bulog itu untuk bagaimana menstabilkan harga, menjaga kesejahteraan petani, kemudian menjaga harga di konsumen,” kata dia.
Amran merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan indeks harga yang diterima petani hingga Juli 2026 mencapai 151,10. Menurut dia, angka tersebut merupakan level tertinggi dan mencerminkan membaiknya harga yang diterima petani.
Kebijakan penyerapan gabah dengan berbagai tingkat kualitas juga memiliki konsekuensi. Salah satunya adalah kemungkinan sebagian beras mengalami penurunan mutu selama proses penyimpanan.
Amran mengatakan risiko tersebut dapat dikelola Bulog dan tidak akan terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan stok CBP.
Ia mencontohkan apabila terdapat sekitar 5.000 ton beras yang mengalami penurunan mutu, jumlah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan total CBP yang mencapai sekitar 5,2 juta ton.
“Kalau ada yang turun mutu, katakanlah kemarin ada 5 ribu ton, dibagi 5,2 juta ton, itu 0,00 sekian persen. Tidak signifikan,” ujarnya.
Menurut Amran, Bulog tetap memiliki ruang untuk mengelola beras yang mengalami penurunan mutu sekaligus menjaga kinerja perusahaan.
“Insya Allah Bulog masih bisa profit. Ini tahun, ini profit. Bulog hadir untuk negara, untuk rakyat Indonesia, untuk petani, untuk konsumen,” kata dia.
Pemerintah tidak hanya meningkatkan cadangan beras. Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk sejumlah komoditas lain juga diperkuat sebagai bagian dari strategi menghadapi kemungkinan gangguan produksi pangan akibat perubahan kondisi iklim.
Cadangan tersebut dikelola oleh Perum Bulog dan ID FOOD. Sebagian besar pasokannya berasal dari penyerapan produksi pangan dalam negeri.
Untuk jagung, stok CPP saat ini tercatat sekitar 159 ribu ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan September 2023 ketika stok jagung pemerintah masih nihil.
Stok daging ayam ras juga meningkat. Saat ini jumlahnya sekitar 38 ton atau naik 138,4 persen dibandingkan posisi September 2023 yang berada di sekitar 15,94 ton.
Selain itu, pemerintah mencatat stok gula konsumsi sekitar 2 ribu ton, minyak goreng 1 ribu kiloliter, telur ayam 6 ton, dan daging sapi 3 ton.
Sebagai perbandingan, sebelum puncak El Nino pada 2023, stok CPP pada awal September tahun itu terdiri atas beras 1,52 juta ton, jagung nihil, daging ayam ras 15,94 ton, gula pasir 37,87 ribu ton, dan minyak goreng 3,74 kiloliter.
Dengan kondisi stok saat ini, pemerintah menilai posisi cadangan pangan nasional lebih kuat dibandingkan sebelum Indonesia menghadapi puncak El Nino pada 2023.
Penguatan cadangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga pasokan pangan dan stabilitas harga apabila musim kemarau panjang berdampak terhadap produksi pertanian.
Namun, besarnya stok pemerintah tetap perlu diikuti dengan pengelolaan yang efektif. Kualitas penyimpanan, kecepatan distribusi, penyerapan produksi petani, serta kemampuan menjaga keseimbangan harga di tingkat petani dan konsumen akan menjadi faktor penting dalam memastikan cadangan tersebut benar-benar berfungsi sebagai penyangga pangan saat tekanan El Nino meningkat.
